.

. zoel fahmy blog's| SMK DARUNNAJAH 2

  • RSS
  • SMK Darunnajah

Fhoto pilihan

AVRIL
SMK JUARA
MY SISTER

Info Pesantren Modern

Pengikut

My Aquarium

My Aquarium

Thumbnail Recent Post

seragam putri darunnajah cipining

inilah muslim

Pembekalan Para Laki-laki SMKDA

Pada waktu itu anak smkda di beri pembekalan untuk berpraktek di dunia kerja

Perpustakaan Menarik, Minat Baca Santri Naik.

“Maju, maju, maju! Ya, awas hati-hati! Okeh…” terdengar suara seperti tukang parkir. Sebenabrnya, yang terjadi bukanlah itu, namun itulah suara komando dari seorang pengurus OSDC (Organisasi Santri Darunnajah Cipining) yang tengah mengomando teman-temannya sesama pengurus dalam mengangkat almari dan beberapa peralatan lain milik bagian perpustakaan

seragam putra santri darunnajah cipining

Muslim Sejati

Air Terjun

Kenangan Bersama si dia

Tampilkan postingan dengan label kata mutiara. Tampilkan semua postingan







Jangan Galau, Allah Bersama Kita! Inilah 4 Ayat Anti Galau!

Oleh: Zakariya Hidayatullah (Mahasiswa STID Muhammad Natsir)]

Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal pergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.

“Galau!!” merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata “galau” tersebut.

Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.

...Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya...

Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid.

Sahabat Abu Bakar, ketika sedang perjalanan hijrah bersama Rasulullah pun di saat berada di dalam gua Tsur merasa sangat cemas dan khawatir dari kejaran kaum Musyrikin dalam perburuan mereka terhadap Rasulullah. Hingga turunlah surat At-Taubah ayat 40 yang menjadi penenang mereka berdua dari rasa kegalauan dan kesedihan yang berada pada jiwa dan pikiran mereka.

Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!

Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40)

Ayat di atas mungkin dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah Ta’ala. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.

...Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa...

Adakalanya, seseorang berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjdai takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.

Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberikan solusi-solusi kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya lalu untuk orang lain.

Berikut ini adalah kunci dalam mengatasi rasa galau;

1. Sabar

Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.

Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).

Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi.

2. Adukanlah semua itu kepada Allah

Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:

“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).

...ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita...

Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.

Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.

3. Positive thinking

Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu manusia dalam mengatasi rasa galau yang sedang menghinggapinya. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada pada dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang kesusahan-kesusahan yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya;

“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).

4. Dzikrullah (Mengingat Allah)

Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.

...Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan...

Sebagaimana firman-Nya:

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).

Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.

Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita. [voa-islam.com]

~ o ~

 Sumber : Strawberry









Perbedaan Ta’aruf Dengan Pacaran


♥ Bismillaahir Rahmaanir Rahiim ♥

Apa perbedaan antara Ta'aruf dan pacaran? Mau tau apa perbedaannya? Lanjutkan bacanya

Tujuan :

- taaruf (t) : mengenal calon istri/suami, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pernikahan.

- pacaran (p) : mengenal calon pacar, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pacaran, syukur-syukur bisa nikah …

Kapan dimulai

- t : saat calon suami dan calon istri sudah merasa bahwa menikah adalah suatu kebutuhan, dan sudah siap secara fisik, mental serta materi.

- p : saat sudah diledek sama teman:”koq masih jomblo?”, atau saat butuh temen curhat, atau saat taruhan dengan teman.

Waktu

- t : sesuai dengan adab bertamu.

- p : pagi boleh, siang oke, sore ayo, malam bisa, dini hari klo ngga ada yang komplain juga ngga apa-apa.

Tempat pertemuan

- t : di rumah sang calon, balai pertemuan, musholla, masjid, sekolahan.

- p : di rumah sang calon, kantor, mall, cafe, diskotik, tempat wisata, kendaraan umum & pribadi, pabrik.

Frekuensi pertemuan

- t : lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.

- p : lazimnya seminggu sekali, pas malem minggu.

Lama pertemuan

- t : sesuai dengan adab bertamu

- p : selama belum ada yang komplain, lanjut !

Materi pertemuan

- t : kondisi pribadi, keluarga, harapan, serta keinginan di masa depan.

- p : cerita apa aja kejadian minggu ini, ngobrol ngalur-ngidul, ketawa-ketiwi.

Jumlah yang hadir

- t : minimal calon lelaki, calon perempuan, serta seorang pendamping (bertiga). maksimal tidak terbatas (disesuaikan adab tamu).

- p : calon lelaki dan calon perempuan saja (berdua). klo rame-rame bukan pacaran, tapi rombongan.

Biaya

- t : secukupnya dalam rangka menghormati tamu (sesuai adab tamu).

- p : kalau ada biaya: ngapel, kalau ngga ada absent dulu atau cari pinjeman, terus tempat pertemuannya di rumah aja kali ya? tapi gengsi dong pacaran di rumah doang ?? apa kata doi coba ??

Lamanya

- t : ketika sudah tidak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. dan ketika informasi sudah cukup (bisa seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?

- p : bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.

Saat tidak ada kecocokan saat proses

- t : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan menyebut alasannya.

- p : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan/tanpa menyebut alasannya.

~ o ~




Silahkan DICOPAS atau DI SHARE, ..
jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....






Sumber : Strawberry

Rasulullah SAW sangat mencintai dan lembut pada istri-istrinya. Berikut adalah contoh sikap luar biasa beliau yang harus diteladani oleh setiap suami:

1.> Rasulullah SAW tidak pernah menyusahkan istrinya.

Jika pakaiannya koyak, Rasulullah SAW menampalnya sendiri tanpa menyuruh isterinya.

Rasulullah SAW selalu bertanggung jawab mencari nafkah untuk keluarganya. Contoh: Rasulullah SAW memerah sendiri susu kambing untuk keperluan keluarga maupun untuk dijual.

2.> Rasulullah SAW tidak segan membantu istrinya di dapur.

Contoh: Setiap kali pulang ke rumah, bila dilihat tiada makanan yang sudah siap dimasak untuk dimakan, sambil tersenyum Rasulullah SAW menyingsingkan lengan bajunya untuk membantu isterinya di dapur.
Rasulullah SAW sering memanggil istrinya dengan panggilan mesra. Contoh: Aisyah r.a. dipanggil dengan panggilan Khumaira (yang kemerah-merahan) oleh beliau.

3.> Rasulullah SAW tidak pernah mendesak istrinya menyediakan makanan.

Contoh: suatu ketika, Rasulullah SAW pulang pada waktu pagi. Beliau pasti sangat lapar saat itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apapun untuk sarapan, bahkan yang mentah pun tidak ada karena Sayidatina ‘Aisyah belum ke pasar. Maka beliau bertanya, “Belum ada sarapan ya Khumaira?” Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit pun tergambar raut kesal di muka beliau.

4.> Rasulullah SAW sangat marah ketika melihat seorang suami sedang memukul istrinya.

Contoh: suatu saat beliau melihat seseorang memukul istrinya. Beliau menegur, “Mengapa engkau memukul istrimu?” Orang itu menjawab, “Isteriku sangat keras kepala! Sudah diberi nasihat dia tetap bandel juga, jadi aku pukul dia.” Rasulullah SAW berkata lagi, “Aku tidak menanyakan alasanmu, aku bertanya mengapa engkau memukul teman tidurmu dan ibu dari anak-anakmu?”

5.> Rasulullah SAW tetap lembut dan santun kepada istri.

Rasulullah selalu memperlakukan istrinya sangat istimewa sekalipun beliau adalah pemimpin umat Islam tertinggi, bahkan saat itu adalah pemimpin terbesar di dunia.

Referensi:

1.> uchihajaka.blogspot.com/2010/02/cara-rasulullah-melayani-istrinya.html
2.> Sayidatina ‘Aisyah menceritakan “Kalau Nabi berada di rumah, beliau selalu membantu urusan rumahtangga. Jika mendengar adzan, beliau cepat-cepat berangkat ke masjid, dan cepat-cepat pula kembali sesudah selesai sembahyang.”
3.> Rasulullah SAW bersabda, “sebaik-baik lelaki adalah yang paling baik, kasih dan lemah lembut terhadap isterinya.”

Insya Allah Sangat Bermanfaat....

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...
Silahkan DICOPAS atau DI SHARE .. jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#


Bismillahir-Rahmaanir-Rahim … Kira-kira pukul 00.00 dini hari sepeda motorku berlari kencang di jalan-jalan utama ibukota, selain faktor keaman­an juga disibukkan dengan deadline tugas kantor yang harus diemailkan segera. Kulihat kiri kanan trotoar para pedagang kaki lima bertebaran menemani aktivitas muda-mudi yang bergumul hingga larut malam.

Tidak ada terlintas pikiran untuk mampir sejenak menikmati secangkir kopi hangat, aku hanya berzikir, berzikir, dan berzikir berharap keselamatan hingga sampai ke tempat tujuan. Tiba-tiba ada suara meletus di ban depanku "Cess" spontan aku pun terucap, "Astagfirullah ya Allah, apa ada ya tambal ban buka malam-malam begini?" Kulihat kiri kanan tidak ada tampak tanda-tanda kehidupan hanya lapak-lapak yang berada di sudut-sudut jalan.

Kutuntun sepeda motorku, terkadang muncul keluhan di hati "Ya Allah jika tahu begini, sedari kemarin tugas kantor ini sudah kukerjakan, nasib... nasib." Cukup jauh kutuntun sepeda motorku hingga akhirnya seorang bapak menghampiriku dari belakang,

"Mas, mau tambal ya di depan ada mas, sini saya bantu," kata bapak itu sambil turun dari sepeda ontelnya dan ikut mendorong sepeda motorku.

Aku pun berdoa, "Ya Allah semoga bapak ini benar-benar ingin menolong," doaku sambil melengos. Doaku mungkin tidak berlebihan mengingat banyakya modus perampokan malam hari yang beranekaragam. Tidak jarang pelakunya menghampiri, membantu, dan kejadian seterusnya bisa disimak di rubrik curanmor koran ibukota.

"Malam-malam begini pak, belum tidur?" tanyaku pelan agar : tidak menyinggung.

"Kerjanya memang sampai malam begini mas, bapak mah punya tambal ban di ujung jalan itu, bapak juga jual teh botol kalau masnya haus, hitung-hitung biar pelanggan nyaman," jawabnya sambil terus mendorong sepedaku. Aku pun ingin terus memastikan, pikirku daripada berprasangka buruk lebih baik bertanya tanpa harus menyinggung.

"Kalau boleh tahu bapak tadi dari mana? Saya sempat kaget lho pak, tahu-tahu bapak sudah ada di belakang saya, jalanankan sudah sepi begini," sambil bergurau kepadanya.

"Mas kira penampakan ya he... he. Bapak biasa begini nak, beberapa jam sekali, bapak mutar naik sepeda ontel di perempatan depan mutar melewati jalan ini terus akhirnya sampai di ujung jalan, bapak berpikirnya siapa tahu ada orang kesusahan atau pas lagi bocor bannya."

Aku pun mendengarkan dengan saksama sambil mengucap­kan syukur kepada Allah ditemukan dengan bapak ini.

"Bapak sadar mas kejahatan udah pada banyak, kebetulan anak bapak jaga tokonya lalu kita bergantian keliling jika ada yang membutuhkan bantuan kami bantu," katanya santai.

Aku pun semakin heran dengan bapak ini, mulia dan langka itulah kesimpulannya. Aku pun terusik bertanya lebih ba­nyak.

"Kenapa buka malam pak, bukannya biasanya lebih laris di pagi hari?" tanyaku iseng.

"Bapak nggak pengen biasa-biasa aja nak, buka pagi itu biasa dan banyak yang melakukannya, sedangkan buka malam hari sampai dini hari kan jarang namun sangai dibutuhkan oleh para pengendara yang butuh bantuan, bapak ambil bagian itu saja."

Kami pun sampai ke warung bapak, sembari menikmati kopi hangat aku kembali bertanya, "Bisa dilanjutkan pak cerita yang tadi...? sepertinya asyik."

"Kalau pagi hari kesempatan laris lebih besar, tapi kalau malam hari kesempatan pahala lebih besar, bapak mah pilih yang kedua aja nak. Kalau bapak berdoa minta dilariskan sama saja berharap agar ban orang-orang pada gembos atau bocor. Lebih baik bapak berdoa agar dapat dimudahkan reze­ki dengan menolong orang lain lewat usaha bapak. Akhirnya nggak cuma tambal ban mas, ada yang sekadar tanya jalan te­rus mampir dan makan di warung bapak, jadi rezeki jadinya.

Menolong orang lebih bisa mempermudah rezeki kita. Rezeki sudah ada yang mengatur, Allah kan Maha Adil nak, bapak jalankan pekerjaan ini sudah 5 tahun yang lalu, dari tambal ban dan warung kopi ini Alhamdulillah sudah bisa menyekolahkan anak bapak yang masih SD, Insya Allah nggak akan kekurangan kalau niat kita tulus dan yakin tiap menit selalu ada rezeki dari Allah." Katanya sambil tersenyum kepadaku.

Aku pun mengangguk sambil mengusap rambut anaknya yang sedang tertidur, rupanya si anak ikut menemani sang bapak bekerja mencari rezeki untuknya.

"Insya Allah saya doakan pak, agar cita-cita bapak tercapai dan semakin banyak orang yang dibantu lagi, semoga dagangan bapak laris."

"Amin, terima kasih ya nak, hati-hati di jalan."

Sambil berjalan kulihat sosok bapak itu kembali melalui spi­on, Alhamdulillah memang rezekinya sang bapak dari keja- uhan kulihat 2 mobil muda-mudi parkir dan ikut meramaikan warung sang bapak. Subhanallah bapak, tiap menit selalu ada rezeki dari-Nya.

Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, "Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau. Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati." Sang Guru tersenyum, "Oh, kamu sakit." "Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati." Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan, "Kamu sakit. Dan penyakitmu itu bernama, 'Alergi Hidup'. Ya, kamu alergi terhadap kehidupan." 

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan. Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. 

Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita. "Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku." kata sang Guru. 

"Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup." Pria itu menolak tawaran sang Guru. "Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?" "Ya, memang saya sudah bosan hidup." 

"Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang." 

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati. 

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut "obat" oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah. 

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis. Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik, "Sayang, aku mencintaimu." 

Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Sang istripun merasa aneh sekali, "Sayang, apa yang terjadi hari ini? 

Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang." 

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, "Hari ini, Bos kita kok aneh ya?" Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! 

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda. Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. 

Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, "Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu." Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, "Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami." 

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya? 

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, "Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan." 

Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!

grfino009rf Religious book - Quran Getty Images/Gulf Images RFBismillahir-Rahmaanir-Rahim ... “Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS Al A’raaf [7] : 36).
Bila Al Qur’an bisa bicara!
Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku ..Dengan wudhu’ aku kau sentuh dalam keadaan suci ..Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari ..Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari ..Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra ...

Sekarang engkau telah dewasa …Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku …Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah …Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu ..Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya ..
Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu ..Kadang kala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa ..Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan ..
Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepianDi atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan ...
Dulu … pagi-pagi… surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halamanSore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau …..
Sekarang … pagi-pagi sambil minum kopi … engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV
Waktu senggang .. engkau sempatkan membaca buku karangan manusia ..Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan …



Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surah2ku (Basmalah) ...
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi ..Tidak ada kaset yang berisi ayat Allah yang terdapat padaku di laci mobilmu ..Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu ..Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku ...
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja ..Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu ..Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun ..E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan ..Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu ..Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku ...

Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga ..

Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk ..Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah ...

Waktupun cepat berlalu … aku menjadi semakin kusam dalam lemari ..Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu ...

Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali ..Itupun hanya beberapa lembar dariku ..Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu ..Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku. ...

Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ..?!?Bila engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba ..Engkau akan diperiksa oleh para malaikat suruhanNya ..Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selama melaluinya..

Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu …Setiap saat berlalu … kuranglah jatah umurmu …


Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu ..Eau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu ..Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu ...

Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati …

Di kuburmu nanti ….Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan ..Yang akan membantu engkau membela diri ..Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu ..Dari perjalanan di alam akhirat ...Tapi Akulah “Qur’an” kitab sucimu ..Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu ..

Peganglah aku lagi ... bacalah kembali aku setiap hari ..Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci ...Yang berasal dari Allah, Tuhan Yang Maha Mengetahui ..Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah ...

Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu …Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu ..
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu ...Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu ....

Sentuhlah aku kembali …Baca dan pelajari lagi aku ….Setiap datangnya pagi dan sore hari ..Seperti dulu …. dulu sekali …Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos …Di surau kecil kampungmu yang damai ...

Jangan biarkan aku sendiri ….Dalam bisu dan sepi ….

"Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. "



Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Terbukanya tabir hati ahli farmakologi Thailand Profesor Tajaten Tahasen, Dekan Fakultas Farmasi Universitas Chiang Mai Thailand, baru-baru ini menyatakan diri masuk Islam saat membaca makalah Profesor Keith Moore dari Amerika. Keith Moore adalah ahli Embriologi terkemuka dari Kanada yang mengutip surat An-Nisa ayat 56 yang menjelaskan bahwa luka bakar yang cukup dalam tidak menimbulkan sakit karena ujung-ujung syaraf sensorik sudah hilang. Setelah pulang ke Thailand Tajaten menjelaskan penemuannya kepada mahasiswanya, akhirnya mahasiswanya sebanyak 5 orang menyatakan diri masuk Islam.



Bunyi dari surat An-Nisa’ tersebut antara lain sebagai berkut;



"Sesungguhnya orang-orang kafir terhadap ayat-ayat kami, kelak akan kami masukkan mereka ke dalam neraka, setiap kali kulit mereka terbakar hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain agar mereka merasakan pedihnya azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagiMaha Bijaksana."



Ditinjau secara anatomi lapisan kulit kita terdiri atas 3 lapisan global yaitu;



Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan Sub Cutis banyak mengandung ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf. Pada saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus sub cutis) salah satu tandanya yaitu hilangnya rasa nyeri dari pasien. Hal ini disebabkan karena sudah tidak berfungsinya ujung-ujung serabut syaraf afferent dan efferent yang mengatur sensasi persefsi.



Itulah sebabnya Allah menumbuhkan kembali kulit yang rusak pada saat ia menyiksa hambaNya yang kafir supaya hambaNya tersebut dapat merasakan pedihnya azab Allah tersebut.



Mahabesar Allah yang telah menyisipkan firman-firman-Nya dan informasi sebagian kebesaran-Nya lewat sel tubuh, kromosom, pembuluh darah, pembuluh syaraf dsb. Rabbana makhalqta hada batila, Ya…Allah tidak ada sedikit pun yang engkau ciptakan itu sia-sia.



Dari Bahtera Menuju Islam ....



Seorang pakar kelautan menyatakan betapa terpesonanya ia kepada Al-Quran yang telah memberikan jawaban dari pencariannya selama ini. Prof. Jackues Yves Costeau seorang oceanografer, yang sering muncul di televisi pada acara Discovey, ketika sedang menyelam menemukan beberapa mata air tawar di tengah kedalaman lautan.



Mata air tersebut berbeda kadar kimia, warna dan rasanya serta tidak bercampur dengan air laut yang Lainnya. Bertahun-tahun ia berusaha mengadakan penelitian dan mencari jawaban misteri tersebut. Sampai suatu hari bertemu dengan seorang profesor muslim, kemudian ia menjelaskan tentang ayat Al-Quran Surat Ar-Rahman ayat 19-20 dan surat Al-Furqon ayat 53. Awalnya ayat itu ditafsirkan muara sungai tetapi pada muara sungai ternyata tidak ditemukan mutiara.



Terpesonalah Mr. Costeau sampai ia masuk Islam. Kutipan ayat tersebut antara lain sebagai berikut:



“Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan, yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antar-keduanya dinding dan batas yang menghalang.” (QS Al-Furqon: 53).



Berdasarkan contoh kasus di atas, dapat memberikan gambaran pada kita bahwa ayat suci Al-Quran mampu menjelaskan fenomena Cromosome, Anatomi, Oceanografi, Keperawatan dan antariksa. Sebenarnya masih banyak ayat- ayat Al-Quran yang menerangkan fenomena evolution and genetic seperti QS. As-Sajdah: 4, QS. al-A’raf: 53, QS. Yusuf: 3, QS. Hud: 7, tetapi karena keterbatasan ruangan pada kolom ini, serta dengan segala keterbatasan ilmu dan pengetahuan yang dimiliki penulis, maka kepada Allah jualah hendaknya kita berharap dan hanya Allah-lah yang Mahaluas dan Mahatinggi ilmunya.



Wallahu a’lam ...



(Diambil dari must_dhani.blogger.com)



~ o ~



Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....



Salah seekor kuda zebra di sebuah hutan mempunyai kelebihan tersendiri di banding hewan-hewan liar lain. Sosoknya besar dan kekar, tapi perangainya begitu lembut. Tidak heran kalau banyak hewan begitu hormat padanya.

Sebegitu hormatnya, sebagian besar hewan bersepakat untuk mendudukkan si zebra besar itu menjadi pemimpin mereka. Hampir hewan apa saja, mulai dari burung, rusa, gajah, kuda, bahkan srigala sekalipun.

Hewan-hewan itu berharap banyak pada si zebra besar. Terutama, agar si zebra besar bisa berani memimpin mereka melawan singa gondrong yang selalu semena-mena. Hampir semua hewan-hewan itu pernah merasakan keganasan dan kerakusan si singa gondrong.
Pertanyaannya, apa si zebra besar berani melawan si singa gondrong? Inilah yang belum teruji. Para hewan hanya melihat dari tampilan luar si zebra, dan mereka pun berkesimpulan sendiri bahwa si zebra berani melawan si singa.

Ternyata, penilaian mereka salah. Si zebra bukan hanya takut, bahkan terang-terangan menyatakan kalau ia tidak akan pernah mengajak hewan-hewan melakukan perlawanan terhadap si singa.

“Saudara-saudaraku, berpikirlah kedepan. Singa gondrong memang rakus, tapi ia masih mempunyai sifat baik. Jangan lakukan perlawanan, marilah kita kerjasama dengan dia!” ucap si zebra besar dalam pidato politiknya.


Mulai saat itu, para hewan mulai tidak suka dengan si zebra besar. Tapi, mereka masih berharap kalau si zebra besar akan berubah sikap. Karena saat ini, mereka menilai belum ada pemimpin yang sebaik si zebra besar.



Mulailah hari-hari kebimbangan merasuki warga hewan di belantara yang subur dengan begitu banyak makanan itu. Sementara, sosok singa gondrong kian rakus dan jahat. Tidak heran jika warga hutan mulai tidak lagi mengakui kepemimpinan si zebra besar.

Suatu kali, si zebra besar meminta warga hewan untuk berkumpul. Ada beberapa pernyataan penting yang ingin ia sampaikan. Ada isu kalau si zebra akan mengundurkan diri.

“Saudara-saudaraku, banyak desas-desus yang menyatakan kalau aku takut dengan singa gondrong. Itu salah! Aku tidak pernah takut dengan dia. Saya meminta agar kita tetap berkerja dan berkerja. Suatu saat, kita akan melawan kezaliman itu!” tegas si zebra yang disambut tepuk tangan dari warga yang hadir.

Usai menyampaikan pidato, si zebra besar dihampiri salah satu hewan kepercayaannya, kancil. Si kancil pun mengungkapkan keheranannya. “Waduh, hebat sekali pidatonya, Pak. Tapi, apa bapak memang benar-benar berani melawan si singa gondrong?” ucap si kancil dengan ramah dan penuh hormat.

Si zebra besar pun agak kikuk menjawab. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan untuk memastikan tidak ada hewan di sekitar situ. Dan ucapnya, “Hm, anu Cil. Sebetulnya aku berani mengatakan seperti itu karena diminta oleh si singa gondrong….


**

Sahabat,

Salah satu sifat buruk pemimpin suatu kaum adalah penakut. Sifat inilah yang menjadikan orang-orang yang dipimpinnya terkungkung dalam ‘kepasrahan’ dari keganasan para penjahat yang terus-menerus menguras kekayaan kaum itu.



Karena itu, berhati-hatilah dengan sifat berani yang tiba-tiba muncul dari pemimpin penakut itu. Boleh jadi, keberaniannya hanya tipuan. Ia tiba-tiba seperti berani lantaran didorong rasa takutnya yang paling besar: jatuh dari kekuasaan.



“Mak…. Aku malu. Kenapa namaku ‘Masako’? Kayak bumbu masak aja? Kenapa Mak?” Tanyaku sore itu dengan sedikit merengek.
Emakku menatapku dengan wajah dingin. Tatapan beku dan tak ada secuilpun kalimat mengalir untuk menjawab pertanyaanku.
“Emak… Aku cuman pengen tahu, kenapa namaku Masako?” Aku bertanya lagi dan emakku tetap seperti biasanya, hanya diam. Dia sibuk dengan adonan untuk membuat bakso. Aku masih ingin terus bertanya, tapi emak masih saja menguleni adonan yang akan dibentuk menjadi bulatan bulatan bakso. Baginya lebih penting bakso itu dari pada pertanyaanku. Memang, dengan membuka warung bakso di depan rumah inilah, emakku bisa membiayai hidupku.Tapi aku masih saja penasaran, kenapa namaku Masako? Kenapa bukan Sinta, Indah, Dewi ataukah Surtiah? Tiba tiba saja ibu berhenti membuat bakso dan berkata, “Ya sudah, kalau begitu besok kamu emak panggil Painem. Puas?”

Sejak saat itu aku tak pernah lagi menanyakan kepada emak, kenapa namaku Masako. Tapi, semakin beranjak besar aku semakin penasaran. Emakku semakin membisu. Saat dia menatap wajahku, dia seperti mengingat kejadian di masa lampau yang begitu menusuk hatinya. Sama sekali aku tak pernah mendengar asal muasalku dari mulut emakku. Justru aku dengar dari mulut mulut nyinyir yang entah mereka mendapatkan berita itu dari mana? Dari berita itu yang kudengar, bapakku seorang Jepang yang meniduri emakku. Aku lahir tanpa dikehendaki kedua orang tuaku. Aku ini anak haram!.Ada yang mengatakan, ibuku dulu seorang JUGUN IANFU. Ketika masih muda dia ditangkap Jepang, dan harus melayani nafsu tentara jepang setiap hari. Dan salah satu dari mereka membuahi rahim ibuku, maka jadilah aku. Tapi itu tak mungkin. Emakku lahir sekitar tahun 60-an.Aku lahir 80-an, dan Jepang hengkang dari Indonesia tahun 1945. Apakah mungkin emakku seorang Jugun Ianfu?

Dari mulut nyinyir itu, aku dengar sebuah kisah. Dulu hidup emakku sangat melarat. Emak pergi ke kota untuk melacur. Tapi ada satu orang yang bercerita padaku tentang emakku dan kali ini beritanya berbeda dari berita berita yang sudah ku dengar. Mak Sunar menceritakan betapa simpatiknya emakku. Suatu ketika ada seorang paruh baya datang ke kampung dan menawarkan pekerjaan yang menggiurkan gajinya. Dalam pikiran emakku, pekerjaan ini akan mengangkat keluarganya dari kemiskinan. Maka berangkatlah emakku yang tak mengetahui kalau pekerjaan yang dijanjikan itu adalah pekerjaan nista.

“Saat itu, emakmu berjuang untuk menghidupi keluarganya, nduk….
“Tapi kenapa emak mau?”
“Emakmu harus mau. Kalau tidak, makan apa keluarganya?”
Mak Sunar terus menceritakan tentang emakku. Dukun beranak yang menyelematkan emakku saat melahirkanku ini sudah tua. Tapi meskipun tua, beliau terlihat sehat dengan giginya yang masih utuh dan berwarna kemerahan karena mengunyah sirih dan tembakau.

Emakku, masih cerita dari Mak Sunar, pernah tinggal di kota. Disanalah dia mengenal bapakku. Bapakku memerlukan emakku hanya sebagai tempat membuang lendirnya saja. Hampir setiap saat. Sampai sampai emakku hanya dipakai oleh bapakku saja. Tak ada lelaki lain. Emakku hamil. Dan bapakku kembali pulang ke Jepang, sementara emakku pulang dengan keadaan perut membesar. Emak melahirkan di kampung dan tak pernah kembali lagi ke kota.####Suatu hari, datanglah empat lelaki bertkulit putih dan bermata sipit, ke gubug kami. Emak menemui mereka sementara tetangga pada ramai memenuhi halaman rumah kami. Para tetangga sibuk dengan gunjingan baru. Emakku menerima tamu dan menjual tubuhnya untuk keempat tamu istimewa ini. Emak tenang sekali menghadapi mereka. Aku sama sekali tak paham bahasanya. Emak berbisik padaku, kalau para tamu ini semua dari Jepang. Aku terus mengamati mereka satu persatu dan membandingkannya dengan diriku. Jangan jangan, salah satu dari mereka adalah bapakku. Emak sesekali menjawab pertanyaan mereka. Aku terus sibuk mereka reka apa yang mereka bicarakan. Tiba tiba saja air mata emak meleleh.

“Bapakmu meninggal Sako…” suara lirih emakku memenuhi gendang telingaku.Aku tertegun, bingung. Baru pertama kali emak mengatakan satu hal tentang bapakku. Tapi sayang beliau sudah meninggal. Emak lalu bercerita, bapakku sakit keras. Selama beliau sakit, ingin sekali berliau bertemu anaknya yaitu aku.

Bapakku bernama Ichiro Ushida. Usianya dua kali lipat emakku. Ketika di kota, emakku jadi pembantu rumah tangga di rumah Ichiro. Kemudian statusnya meningkat menjadi istri kedua. Sayangnya, Ichiro tak mau punya anak. Dia meminta emakku untuk menggugurkannya. Tapi emak menolak dan memilih pulang. Ichiro berpesan, bila anaknya lahir agar diberi nama Masako. Emak setuju dan pulang ke kampung dengan perut besar. Sementara Ichiro dengan istri pertamanya, tak mempunyai anak. Di akhir hayatnya, Ichiro menepati janjinya mencari aku dan emak. Menjelang ajalnya, dia menulis wasiat, memberikan seluruh hartanya untukku.

Dalam sekejap hidupku berubah. Kami sangat kaya. Rumah kami yang hanya berdinding bambu, kini megah dengan dinding batu. Perabotan berubah, semua dari kayu jati. Ibu membeli dua buah ruko dan membuka cabang warung bakso disana. Tak terdengar lagi mulut nyinyir seperti dulu. Sikap tetanggaku berubah drastis. Teman temanku yang dulu memanggilku si anak haram, kini berubah total menjadi baik padaku. Kekayaan telah menyulap segalanya. Kehormatan dan martabat bisa datang jika kita berlimpah materi. Itu yang membuatku semakin teriris. Pandangan hidup masyarakat kita ternyata masih lekat sekali dengan yang namanya MATERI.
(Sumber : Page "RKI")




Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Inna Ma’al ‘Usri Yusra (Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan) ... Tulisan dikutip sebagian dari isi buku Laa Tahzan .. buah karya Dr. Aid Al-Qarni. Semoga bermanfaat ... Selamat Menikmati ....
Wahai saudaraku ..,

Sesungguhnya setelah kelaparan ada kenyang, sesudah dahaga ada kesejukan, setelah begadang ada waktu tidur, setelah sakit ada sembuh, pasti yang sesat akan menemukan jalannya, yang telah melalui kegelapan ada secercah cahaya terang benderang. Lihatlah para petualang di sebuah gua yang gelap, setelah berjalan kesana kemari melihat setitik lobang cahaya. Karena apa? Karena Allah berfirman :” Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan atau keputusan kepada kita dari sisiNya. Kata ‘Asa (mudah-mudahan), dalam kamus Allah itu merupakan suatu kepastian, bukan seperti mudah-mudahan dalam bahasa lisan makhluk, yang tak pasti.

Beri kabar gembiralah bagi malam yang gelap, bahwa esok lusa akan ada fajar dari puncak gunung, dan celah-celah lembah, berilah kabar gembira bagi mereka yang dalam keadaan gelisah, goncang, bahwa dalam lamhatilbashar menurut pandangan Allah, akan ada kegembiraan, ada kelembutan tersembunyi dibalik penderitaan itu.

Apabila kita melihat dan berjalan ditengah padang pasir nan tandus itu,.kita berjalan lagi..masih juga padang pasir,.berjalan terus,..sampai suatu saat kelak kita akan menemukan dedaunan hijau, perkampungan hijau, ada kehidupan disana.Semua itu kerana apa,..? Karena setiap ada muara ada hulunya atau sebaliknya. Ada ujung ada pangkalnya, ada kesulitan pasti setelah itu ada kemudahan.

Bila kita melihat tali itu kuat dan sambung menyambung, lihatlah suatu saat pasti akan ada terputus juga, dibalik kemelaratan, pasti ada kebahagiaan, didalam ketakutan, akan disertai rasa aman, dalam kegoncangan, setelah itu pasti angin itupun tenang kembali.

Ombak menderu-deru, tidak selamanya ia berhembus terus, pasti ada masa tenangnya. Karena apa…? Karena Allah sudah berfirman :” Tuulijullaila finnahaari..watuulijunnahaara fillaili “( Allah menggantikan malam kepada siang,siang diganti malam).Masa regenerasi dan pergantian itu pasti ada.

Jadikanlah jeruk nipis itu menjadi manis !!
Orang yang cerdas, lagi pintar, akan merubah kerugian-kerugiannya kepada keberuntungan-keberuntungan. Sementara orang yang bodoh lagi selalu dalam keadaan bingung, akan menambah musibah menjadi dua musibah,.bahkan musibah bertingkat-tingkat.

Lihatlah betapa Rasulullah SAW diusir dari kampung kelahirannya Mekkah. Apakah beliau bersikap pesimis dan patah semangat? Tidak bukan? Beliau hijrah ke Medinah dan mencari penghidupan baru disana, berkarya, bekerja dan berdakwah, sehingga jadilah beliau maju dan dapat membangun Medinah menjadi manusia-manusia bertaqwa, setelah mapan beliau baru kembali membangun asal negerinya yang beliau pernah diusir itu. Bayangkan,..seorang yang ummi, tak tahu baca dan tulis , diusir dari kampung halamannya sendiri, dan oleh bangsanya sendiri, dapat merubah masyarakat dari lembah kejahiliahan, menjadi insan yang tahu ilmu, tahu nilai-nilai akhlak yang luhur, dan maju dalam perekonomian. Dikenal dan dikenang dalam sejarah turun temurun.

Imam Ahmad bin Hanbal dipenjarakan, dicambuk, apa yang terjadi pada beliau setelah itu? Beliau jadi Imam ahli Sunnah. Imam Ibnu Tayyimiyah keluar dalam tahanannya penuh dengan ilmu yang berlimpah ruah. Mengarang 20 jilid buku fiqh. Ibnu Katsir Ibnu jauzi di Baghdad Dan Imam Malik bin raib di timpa musibah yang hampir mematikan beliau, dengan penderitaannya itu beliau telah menulis qasidah yang benar-benar membuat orang terpukau,sya’ir-sya’ir beliau yang membuat orang membacanya terperangah dapat mengalahkan penyair-penyair Abbasiyyah yang terkenal itu.

Apabila seseorang menimpakan kepadamu kemudharatan, dan apabila kamu ditimpa musibah, maka lihatlah dari sisi lainnya. Bila kamu melihat kegelapan, carilah titik terangnya. Apabila kamu disuguhkan seseorang secangkir jeruk nipis yang asam, maka tambahkanlah gula didalamnya biar terasa manis.

Apabila seseorang memberikan serigala yang galak kepadamu, maka ambillah kulitnya yang berharga, tinggalkan yang tak berharga. Apabila kamu diserang dan digigit kalajengking, maka ambillah obat antibiotik dari binatang itu juga, karena didalamnya juga ada racun hidup yang dapat mematikan kuman.

Jadikanlah Ac pendingin didalam tubuhmu yang keras, dan panas itu sebagai penyeimbangnya. Agar keluar dari dalam tubuh kita bunga yang harum semerbak wanginya . Bila kamu benci akan sikap seseorang, jangan jauhi ia, ambil dan lihat sisi baik darinya. Semua ini karena apa..? Karena Allah berfirman :

” ‘Asaa antakrahuu syaiaan,wahuwa khairullakum “. Bisa jadi sesuatu yang kamu benci itu, malah yang terbaik untukmu.

Begitupun sebaliknya, wa‘asaa antuhibbuu syaian wahuwa syarrullakum ” Bisa jadi suatu yang sangat kamu cintai, ia tak baik dan menjadi mudharat untukmu juga “. (QS. Al-Baqarah : 216)







Bismillahir-Rahmanir-Rahim ... Dalam suatu Konferensi iblis, syaitan dan jin, dikatakan: “Kita tidak dapat melarang kaum muslim ke masjid”, “Kita tidak dapat melarang mereka membaca Al-Qur’an dan mencari kebenaran”, “Bahkan kita tidak dapat melarang mereka mendekatkan diri dengan Tuhan mereka Allah dan Pembawa risalahNya Muhammad”, “Pada saat mereka melakukan hubungan dengan Allah, maka kekuatan kita akan lumpuh.”

“Oleh sebab itu, biarkanlah mereka pergi ke Masjid; biarkan mereka tetap melakukan kesukaan mereka, TETAPI CURI WAKTU MEREKA, sehingga Mereka tidak lagi punya waktu untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah”.

“Inilah yang akan kita lakukan,” kata iblis. “Alihkan perhatian mereka dari usaha meningkatkan kedekatannya kepada Allah dan awasi terus kegiatannya sepanjang hari!”. “Bagaimana kami melakukannya?” tanya para hadirin yaitu iblis, syaitan, dan jin. Sibukkan mereka dengan hal-hal yang tidak penting dalam kehidupan mereka, dan ciptakan tipudaya untuk menyibukkan fikiran mereka,” Jawab sang iblis “Rayu mereka agar suka BELANJA, BELANJA DAN BELANJA SERTA BERHUTANG, BERHUTANG DAN BERHUTANG”.

“Bujuk para istri untuk bekerja di luar rumah sepanjang hari dan para suami bekerja 6 sampai 7 hari dalam seminggu, 10 - 12 jam seminggu, sehingga mereka merasa bahwa hidup ini sangat kosong, jangan biarkan mereka menghabiskan waktu bersama anak-anak mereka, jika keluarga mereka mulai tidak harmonis, maka mereka akan merasa bahwa rumah bukanlah tempat mereka melepaskan lelah sepulang dari bekerja, Dorong terus cara berfikir seperti itu sehingga mereka tidak merasa ada ketenangan di rumah, Pikat mereka untuk membunyikan radio atau kaset selama mereka berkendaraan”. “Dorong mereka untuk menyetel TV, VCD, CD dan PC di rumah, Sepanjang hari. Bunyikan musik terus menerus di semua restoran maupun toko2 di dunia ini.”

“Hal ini akan mempengaruhi fikiran mereka dan merusak hubungan mereka dengan Allah dan RasulNya”

“Penuhi meja-meja rumah mereka dengan majalah-majalah dan tabloid”.

“Cekoki mereka dengan berbagai berita dan gosip selama 24 jam sehari”

.”Serang mereka dengan berbagai iklan-iklan di jalanan”.

“Banjiri kotak surat mereka dengan informasi tak berguna, katalog-katalog, undian-undian, tawaran-tawaran dari berbagai macam iklan.

“Muat gambaran wanita yang cantik itu adalah yang langsing dan berkulit mulus di majalah dan TV, untuk menggiring para suami berfikir bahwa PENAMPILAN itu menjadi unsur terpenting, sehingga membuat para suami tidak tertarik lagi pada istri-istri mereka”

“Buatlah para istri menjadi sangat letih pada malam hari, buatlah mereka sering sakit kepala”.

“Jika para istri tidak memberikan cinta yang diinginkan sang suami, maka akan mulai mencari di luaran”. “Hal inilah yang akan mempercepat retaknya sebuah keluarga”

“Terbitkan buku-buku cerita untuk mengalihkan kesempatan mereka untuk mengajarkan anak-anak mereka akan makna shalat.”

“Sibukkan mereka sehingga tidak lagi punya waktu untuk mengkaji bagaimana Allah menciptakan alam semesta. Arahkan mereka ke tempat-tempat hiburan, fitness, pertandingan-pertandingan, konser musik dan bioskop.”

“Buatlah mereka menjadi SIBUK, SIBUK DAN SIBUK.” “Perhatikan, jika mereka jumpa dengan orang shaleh, bisikkan gosip-gosip dan percakapan tidak berarti, sehingga percakapan mereka tidak berdampak apa-apa.

“Isi kehidupan mereka dengan keindahan-keindahan semu yang akan membuat mereka tidak punya waktu untuk mengkaji kebesaran Allah, dan dengan segera mereka akan merasa bahwa keberhasilan, kebaikan/kesehatan keluarga adalah merupakan hasil usahanya yang kuat (bukan atas izin Allah).”

“PASTI BERHASIL, PASTI BERHASIL, RENCANA YANG BAGUS.” Iblis, syaitan dan jin kemudian pergi dengan penuh semangat melakukan tugas MEMBUAT MUSLIMS MENJADI LEBIH SIBUK, LEBIH KALANG KABUT, DAN SENANG HURA-HURA, dan hanya menyisakan sedikit saja waktu buat Allah sang Pencipta.”

“Tidak lagi punya waktu untuk bersilaturahmi dan saling mengingatkan akan Allah dan RasulNya”. Sekarang pertanyaan saya adalah, “APAKAH RENCANA IBLIS INI AKAN BERHASIL???”

“KITA-LAH YANG MENENTUKAN..!!!”

~ o ~

Semoga bermanfaat dan Dapat Diambil Hikmah-Nya ...Silahkan DICOPAS atau DI SHARE jika menurut sahabat note ini bermanfaat ....

#BERSIHKAN HATI MENUJU RIDHA ILAHI#------------------------------------------------.... Subhanallah wabihamdihi Subhanakallahumma Wabihamdika Asyhadu Allailaaha Illa Anta Astaghfiruka Wa atuubu Ilaik ....

Referensi Lainnya : http://kembanganggrek2.blogspot.com/





Kisah ini saya petik dari suatu laman web… Kisahnya benar² menyentuh hati. Buat wanita yang bakal bergelar isteri, jadikan kisah ini sebuah pedoman. Buat lelaki, kisah ini boleh disampaikan buat mereka yang berkenaan.
Akhirnya setelah dua tahun menghilang diri, Normah kembali ke rumahnya. Seperti dahulu, dia masih cantik bergaya. Lenggoknya masih gemalai, pinggang masih ramping, gincu masih merah dan mekap masih tebal. Jika berselisih, aroma pewanginya masih kuat menusuk hidung. Namun bezanya, Normah kelihatan tidak begitu ceria. Zahirnya dia begitu anggun tapi wajahnya terlukis warna yang muram dan lesu. Tutur katanya perlahan dan tidak bermaya seperti orang keresahan.

“Kenapa awak balik? Pergilah ikut jantan. Awak tak ada pun saya boleh jaga anak-anak kita ni!!” jerkah suaminya, Halim sebaik melihat Normah pulang dengan menjinjing sebuah beg besar.

Normah tidak menjawab kerana dia tahu, itu memang salahnya. Dia cuma berdiri di pintu dan menundukkan muka. Halim sebaliknya terus membelasah isterinya itu dengan kata-kata keras. Sudah lama geram itu menggelodak di hati, lalu inilah masa untuk melepaskannya.

Normah masih terpaku di muka pintu. Dikesat air mata yang bergenang. Tiada sepatah perkataan pun di balasnya kata-kata Halim itu kerana hajatnya pulang bukanlah untuk bertengkar. Hasratnya Cuma satu, untuk pulang ke pangkuan suami dan anak-anak.

Jika diikutkan hati memang hendak dihalaunya Normah, tapi disebabkan anak-anak, Halim menahan juga kemarahannya. Dibiarkan Normah masuk ke rumah yang telah lebih dua tahun ditinggalkannya itu.

Bagi Halim, kepulangan Normah tidak membawa apa-apa erti lagi dalam hidupnya. Malah ia cuma memulakan semula kekalutan yang sudah dirungkaikannya, mengeruhkan hidup yang mula jernih dan memarakkan semula api yang telah dipadamkan.

Dua tahun dahulu, Normah meninggalkan Halim dan dua anaknya, Iffa, 5, dan Aina, 2.Yang ditinggalkan hanyalah sekeping nota menyatakan yang dia ingin hidup bersama kekasihnya.

” Saya rasa kita dah tak ada persefahaman lagi. Saya mahu hidup bahagia dengannya” demikian antara lain nota yang ditinggalkannya untuk Halim.

Kesalnya dia dengan tindakan Normah tidak terkata. Halim akui sejak akhir-akhir ini Normah sudah berubah. Kalau dulu layanannya begitu baik, sekarang mula dingin. Pantang silap sedikit, mulalah naik angin. Kata-katanya pula, selalu saja diiringi sindiran. Sudahlah begitu, sering pula Normah meminta barang-barang mewah di luar kemampuan Halim. Itulah yang menghairankan Halim.

Lama-kelamaan, Halim terhidu pula berita Normah menjalin hubungan sulit dengan lelaki berada. Dia ada bertanya tentang hal itu, namun Normah lantas menafikannya. Walaupun Halim menekannya dengan cerita dan bukti-bukti, tapi Normah tetap menidakkannya. Malah dituduh pula suaminya cemburu buta. Nah, sekarang terbukti sudah kebimbangannya itu. Tapi apa yang boleh dilakukan, nasi sudah menjadi bubur.

Sejak Normah meninggalkannya, hidup Halim tidak terurus. Terpaksalah dia membesarkan anaknya itu sendirian. Dialah ibu dialah bapa. Dengan gajinya sebagai penyelia kilang yang tidak seberapa dan menyewa pula di sebuah rumah di pinggir Kuala Lumpur, tentulah sukar untuk dia menguruskan hidup.

Kalau kanak-kanak lain selalu bertukar pakaian, anak-anaknya dengan baju dua tiga pasang itulah. Makan yang mewah jauh sekali, kecuali apabila dia mendapat gaji. Rutin hidupnya, awal pagi menghantar anak-anaknya ke rumah ibunya dan malam menjemput mereka pulang. Dialah yang memasak dan mengemas rumah. Kadangkala adik perempuannya turut membantu menguruskan keluarganya.

Memang hidupnya sukar, tapi Halim belum tergerak untuk berkahwin lagi. Baginya, biar susah macam mana pun, semua halangan itu akan dirempuhinya. Tambahan pula Normah masih tidak diceraikan.

Halim juga mahu membuktikan kepada Normah bahawa tanpa wnita itu, dia boleh menguruskan keluarga. Dan juga, kalau kemewahan yang menyebabkan Normah meninggalkannya, Halim ingin buktikan bahawa tanpa wang yang banyak sekalipun dia boleh hidup bahagia.

Ternyata tanpa Normah, Halim mampu membesarkan anak-anaknya seperti ibu bapa lain. Iffa dan Aina juga kian lama kian melupakan ibu mereka. Malah melihat gambar pun mereka benci. Bukan Halim yang menghasut tapi kerana Normah sendiri yang bengis terhadap anak-anak.

Kerana itulah, kepulangan Normah membangkitkan semula kemarahan Halim. Tambahan pula Halim mendapati ada sesuatu yang tidak kena dengan perut Normah. Ia membuncit seperti sedang hamil. Bagaimanapun dia tidak mahu bertanya kepada wanita itu.

“Tempat awak di sana!” kata Halim menunjukkan Normah ke arah sebuah bilik kecil. Di dalamnya ada sebuah tilam bujang yang kusam. Bertompok sana, bertompok sini. “Nak alas, cari sendiri,” kata Halim, lalu menyindir “itupun kalau awak ingat kat mana nak cari….” Normah ditinggalkan sendirian.

Malam itu, Normah tidur seorang diri dalam bilik sempit dan penuh barang-barang. Sementara Halim tidur bersama dua anaknya di bilik lain. Bila anak-anaknya pulang, Normah cuba membelai mereka tapi Iffa dan Aina segera menjauhkan diri. Dipujuk dengan bermacam-macam cara pun tidak berkesan. Terpaksalah Normah membawa diri ke dalam bilik dan menangis teresak-esak.

Begitulah keadaan mereka setiap hari. Normah menjadi orang asing di dalam rumahnya sendiri sementara Halim meneruskan hidup seperti biasa. Mereka tidur berasingan dan setiap pagi, anak-anak dihantar ke rumah ibunya tidak jauh dari situ.

Ternyata telahan Halim tepat. Dari sehari ke sehari dilihatnya perut Normah semakin membusung. Lain macam bulatnya. Setelah didesak dan dijerkah berkali-kali, Normah terpaksa mengaku dirinya berbadan dua.

“Aku dah agak. Patutlah awak balik…nak suruh aku jadi bapak pada budak tu, kan? Nak jadikan aku pak sanggup?” Halim melepaskan paku buah keras. “Bukan macam tu bang, saya…” tapi belum pun sempat Normah menghabiskan cakap, Halim memintas ” Saya apa?! Saya tak buat benda tak senonoh tu? Budak tu anak aku? Tolong sikit….bila masa aku sentuh badan kau tu? Hah?”

Bagi menutup malu, Normah memakan makanan yang tajam, pedas dan berasid untuk menggugurkan kandungannya, tetapi gagal. Perutnya terus-menerus membesar. Gagal cara itu, dia pergi ke klinik swasta pula. Bagaimanapun doctor tidak mengizinkan kerana risikonya terlalu tinggi. Kata doktor, kandungannya sudah besar dan jika digugurkan, ia boleh mengundang maut.

Semakin hari jiwa Normah semakin tertekan. Perut kian memboyot sedangkan anak dan suami pula tidak menghiraukan kehadirannya. Dia menjadi melukut di tepi gantang dalam rumah sendiri. Suami menjauhkan diri bila hendak mengadu dan anak pula tidak menganggapnya ibu untuk mereka bermanja.

Tidak ada jalan lain, Normah meminta Halim menghantarkan dia ke rumah ibunya. Tentu saja Halim tidak membangkang. Memang itu yang dia mahukan. Namun sambutan ibu bapanya juga mengecewakan.

“Dua tahun kamu tinggalkan suami dan anak, tiba-tiba baru dua bulan balik perut kamu dah besar macam ni. Huh…memang patut pun Halim buat macam ni. Kamu derhaka pada dia!” kata bapa Normah, Haji Shafie bila mendapati anaknya itu hamil.

Dari sehari ke sehari tekanan perasaannya tambah menebal. Ia kian merundung bila tumbuh pula cacar di badannya. Dari kecil ia membesar, dan dari sebiji-sebiji ia merata memenuhi badan. Di dalam cacar itu, menguning nanah busuk dan jelik baunya. Pada waktu yang sama, Normah mengidap darah tinggi pula.

Tekanan perasaan yang melampau itu menyebabkan Normah dibawa oleh ibu bapanya berjumpa dengan pakar jiwa. Bermacam-macam ubat dan rawatan diberikan tapi ternyata begitu sukar untuk dia dipulihkan. Disebabkan badannya terlalu lemah, doktor mencadangkan supaya Normah bersalin melalui cara pembedahan apabila usia kandungannya mencecah tujuh bulan lebih sedikit.

Pada waktu yang ditetapkan, Normah dimasukkan ke wad. Seminggu sebelum dibedah, dia mula meracau-racau dan meraung. Bermacam-macam dijeritkannya tanpa hujung pangkal. Dimaki hamunnya emak dan ayah serta jururawat yang datang. Kemudian Normah menangis pula hendak balik dan melihat anak-anak.

Dalam keadaan yang kritikal itulah ayahnya, Pak Cik Shafie menelefon saya dan menceritakan keadaan anaknya itu secara ringkas. ” Pak cik tak mahu nak salahkan sesiapa. Dua-dua ada buat silap. Tapi sekarang ni pak cik minta ustaz usahakanlah ubat anak pak cik tu,” katanya. Daripada suaranya itu saya tahu dia sedang menahan sebak.
“Saya di Sarawak sekarang ni pak cik. Dua hari lagi saya balik. Tapi buat sementara ni, usahakan baca Yasin dulu. Bila saya balik nanti, saya terus ke sana,” jawab saya. Sekembalinya ke Semenanjung saya terus menziarahi Normah. Keadaannya sama seperti yang diceritakan oleh bapanya.Mengerang kesakitan, meracau, meronta-ronta, dan bercakap tidak keruan. Keadannya ketika itu memang menyedihkan kerana dalam keadaan perut memboyot dia meraung seperti hilang akal.

Namun timbul pertanyaan di fikiran saya selepas dibacakan Yasin, keadaan Normah bertambah buruk. Keadaanya ibarat mencurah minyak ke api, makin disiram makin besar maraknya. Ibu bapa dan adik beradik Normah menangis melihat keadaan dirinya.

“Pak cik mana suami dengan anak-anaknya?” saya bertanya bila melihat suami dan anak-anak Normah tidak menziarahinya.

” Itulah yang saya nak cakap pada ustaz. Saya dah pujuk, rayu dia datanglah tengok anak saya ni. Kata saya, walau besar mana pun dosa anak saya, kalau dia menderhaka sekalipun, tapi dalam keadaan macam ni bukankah elok kalau dia di ampunkan? Tapi dia tak mau. Jengah pun tidak,” kata Haji Shafie kesal.

“Dia marah lagi agaknya,” saya menyambung.
“Saya tau… kalau jadi pada kita pun kita marah. Saya bukanlah nak salahkan dia, tapi yang sudah tu sudahlah. Anak saya pun bersalah, saya mengaku,” tambah Haji Shafie.

“Kalau macam tu,” tambah saya,” bawa saya jumpa menantu pak cik tu. Insya-Allah kita sama-sama pujuk dia.”
Seperti yang dipersetujui, beberapa hari kemudian saya dibawa oleh Haji Shafie berjumpa dengan menantunya itu.
“Yang sudah tu sudahlah Lim, ampunkanlah dia. Normah tengah tenat tu,” Haji Shafie merayu.
” Dua tahun dia tinggalkan kami anak beranak. Balik-balik, mengandung…suami mana yang tak marah, ayah ?. Mana saya nak letak muka saya ni ? Dayus, pucuk layu , tak ada punai, tak tau jaga bini, macam-macam lagi orang hina saya…’ tambah Halim melepaskan segala yang terbuku di hati. Bermacam-macam lagi di rungutkan hingga tidak sanggup kami mendengarnya.

” Ayah faham perasaan kau. Ayah tau Normah yang salah, derhaka pada kau , tapi dia tengah tenat sekarang ni,” Haji Shafie merayu lagi , Halim tidak menjawab sepatah pun Nafasnya saja yang turun naik manakala muka merah padam menahan marah.

Bila keberangan nya semakin reda saya menasihatkan Halim supaya melupakan perkara yang telah berlalu itu. “Mengampunkan orang lain lebih baik daripada membalas dendam . Isteri awak menderita sekarang ini pun sebab dia sudah sedar dengan kesalahan dia, jadi eloklah awak maafkan,” kata saya.
Lalu saya ..hadis dan firman Allah berkaitan …Ternyata Halim sudah berpatah arang berkerat rotan . ” Saya tak akan jenguk dan saya tak akan ampunkan dia. Isteri durhaka ! ” katanya.

Sampailah hari Normah di bedah , Halim langsung tidak menjengukkan mukanya. Iffa dan Aina juga di larang daripada menjengah ibu mereka. Bagaimanapun , di sebabkan keadaan Normah yang tenat, makan minum tidak menentu , bayi yang di lahirkannya meninggal dunia beberapa hari kemudian. Normah pula sejak sedar daripada pembedahan semakin teruk jadinya.

Setiap hari, terutamanya tengah malam dan senja dia akan meracau. Yang mengaibkan , racauannya kini mendedahkan segala pelakuan jelik yang di lakukannya selama meninggalkan Halim dan anak-anak.

Antaranya, Normah menceritakan yang dia telah mengikut lelaki hingga ke Siam dan kemudian hidup seperti suami isteri. Selepas berpisah dengan lelaki itu, dia bersekedudukan pula dengan lelaki lain. Tidak kurang dengan tiga lelaki telah dia berzina.

“ Abang ..ampunkanlah saya. Saya derhaka, saya jahat, saya malukan abang…maafkanlah saya…”dia terus menangis dan meratap.

Setiap hari bermacam-macam rahsia di dedahkannya; tentang tempat-tempat maksiat yang pernah dia pergi bersama teman lelaki, kawan-kawan lain yang sama saja perangai dengannya juga kekecewaannya bila dipermainkan lelaki-lelaki terbabit.

“ Abang , Iffa, Aina…marilah tengok emak . Emak tak jahat lagi,. Emak nak jadi baik. Emak nak jadi lawa, pandai, suka masak, kita pergi sungai…” ratapnya lagi bercampur dengan kata-kata yang melalut.

Tidak dapat hendak di gambarkan bagaimana malunya Haji Shafie dan isterinya setiap kali Normah menelanjangkan keburukannya sendiri. Berbagai-bagai cara mereka lakukan supaya Normah berhenti meracau seperti menutup mulut, memujuknya diam dan kadangkala turut sama bercakap supaya orang-orang di sekeliling tidak mendengar , tetapi usaha itu tidak berhasil.

Setelah hampir sebulan Normah mendedahkan kecurangannya, keadaan wanita itu bertambah parah. Tekanan darahnya menurun dan kerap tidak sedarkan diri. Badannya yang kurus makin melidi kerana Normah tidak mahu menjamah makanan. Yang di lakukan sepanjang hari hanyalah menangis dan meminta ampun kepada Halim. Setelah itu dia kembali terkulai tidak sedarkan diri.

Haji Shafie sekali lagi menemui saya.
“Ustaz pujuklah menantu saya tu. Mintalah dia datang jenguk Normah dan ampunkan lah kesalahan dia. Memang anak saya bersalah , tapi dalam keadaan sekarang, Cuma keampunan suami saja yang boleh selamatkan dia,” kata haji Shafie. Isterinya sejak tadi saya tengok tiada berhenti-henti mengesat air mata .
” Kalau begitu, mari kita pergi jumpa Halim,” kata saya.
Puas kami memujuknya . Alhamdulillah, setelah berbagai-bagai alasan di beri, akhirnya Halim bersetuju. Bagaimanapun saya lihat dia seperti terpaksa saja. Langkahnya berat dan nampak kurang ikhlas.
” Sudahlah Lim, lupakan yang lepas-lepas. Buangkan dendam, gantikan dengan kemaafan. Insya-Allah, semua pihak akan dapat keberkatanNya,” kata saya semasa Halim hendak memasuki kereta. Dia cuma tersenyum tawar.
Demi terpandang saja Halim datang menjenguk, Normah dengan suara yang amat lemah memohon maaf kepada suaminya itu.

“Sa..sa..ya der…haa..ka pada abaaaang..” katanya antara dengar dengan tidak. Sambil air mata jatuh berlinangan, dia mengangkat tangannya untuk meminta maaf, tapi terlalu sukar. Ibunya cepat-cepat membantu.
“Yalah…”jawab Halim perlahan lantas menyambut tangan Normah. Reaksinya masih tawar. Dia belum benar-benar ikhlas.
Petang itu kami bersama-sama membacakan surah Yasin dan ayat-ayat suci al-Quran untuk Normah yang kelihatan semakin teruk. Bagaimana pun bila Normah meminta ampun sekali lagi, saya lihat Halim semakin ikhlas menyambutnya. Saya tersenyum. Mungkin hatinya sudah sejuk melihat penderitaan Normah.

Lebih kurang pukul 5.00 petang saya meminta diri kerana ada urusan penting. Sebelum pulang saya berpesan; ” Lim, sekarang ni awak saja yang boleh selamatkan Normah. Dia harapkan sangat keampunan daripada awak. Selepas itu, serahkan kepada Allah. Kalau sembuh, alhamdulillah, kalau tidak biarlah dia pergi dengan aman “.
” Terima kasih ustaz,” balas Halim.

Seminggu kemudian Halim datang ke rumah saya dan memaklumkan bahawa Normah telah meninggal dunia. Bagaimanapun, dia membawa juga kisah yang menginsafkan mengenai pemergian Normah.
“Ustaz,” Halim memulakan ceritanya, “Malam tu Cuma tinggal saya dan anak-anak saja duduk di tepi Normah. Ibu dan bapa dia ke kantin untuk makan. Bila saya bacakan Yasin , saya tengok air mata arwah mengalir setitik demi setitik. Saya tau dia benar-benar insaf dengan kesalahannya dulu, curang pada saya, derhaka pada suami, tinggalkan anak-anak.”
“Sampai di ayat salamun qaulam mirrabir rahim, saya ulang tiga kali. Setelah habis, saya usap dahi arwah. Saya lakukannya dengan ikhlas sebab tidak sampai hati tengok hati dia menderita.”

” Setelah menciumnya tiga kali tiba-tiba dia nazak. Nafasnya di tarik dalam-dalam tapi nampak susah sangat. Sekejap kemudian nafasnya laju, tapi lepas itu lambat betul. Saya cemas. Dah dekat ke?”
“Tiba-tiba Aina menangis Entah apa yang di gaduhkan dengan kakaknya saya pun tak tau . Kuat betul dia menangis sampai saya tak sanggup nak dengar. Berbelah bagi juga sama ada antara anak dan isteri yang tengah sakit, tapi bila fikirkan tangisan budak itu mengganggu pesakit lain, saya terus ambil Aina dan pujuk dia. Susah pula nak pujuk dia hari tu sampai terpaksa dukung dan bawa ke luar wad.”

“Namun bila kembali ke wad, saya dapati Normah dah tidak bernafas lagi.”
“Luka memang berdarah lagi, ustaz, tapi bila dia meninggal tanpa ada sesiapapun di sebelahnya, menitis juga air mata saya. Yalah, kalau orang lain pergi dengan baik, ada orang tolong bisikan syahadah, bacakan Yasin, dia pula pergi macam tu. Agaknya itulah balasan untuk isteri yang derhaka ‘.”

Cukup menginsafkan? Ambil iktibar dan sampaikanlah pada yang lain. Wallahualam

Sumber : alcapacino.com



Mereka telah saling mengenal sejak bersekolah dan sejak menjadi sahabat baik. Mereka berbagi semua dan apapun juga dan menghabiskan banyak waktu bersama dalam dan setelah sekolah. Tetapi hubungan mereka tidak berkembang namun hanyalah sebatas teman. Diane menyimpan rahasia, kekagumannya dan cintanya kepada Jack. Dia memiliki alasan tersendiri untuk menyimpan hal itu sendiri.

TAKUT! Takut akan penolakan, takut jika Jack tidak merasakan hal yang sama, takut kalau Jack tidak menerimanya sebagai temannya lagi, takut kehilangan seseorang yang dia merasa nyaman bersamanya. Setidaknya jika dia tetap menjaga perasaannya, dia mungkin masih bisa bersama Jack dan dengan harapan, bahwa Jack lah yang akan mengatakan bagaimana perasaannya kepada Diane.

Waktu terus berjalan dan sekolah telah bubar. Jack dan Diane pergi ke arah yang berlainan. Jack melanjutkan studinya ke keluar negeri, sedangkan Diane mendapatkan pekerjaan. Mereka tetap saling berhubungan, dengan surat, saling mengirimkan foto masing-masing dan saling mengirimkan hadiah. Diane merindukan Jack akan kembali. Dia telah memutuskan bahwa dia memiliki kekuatan untuk mengatakan kepada Jack bagaimana perasaan cintanya, jika Jack kembali.

Dan tiba-tiba, surat dari Jack terhenti. Diane menulis kepadanya, tetapi tidak ada jawaban. Dimana dia? Apa yang terjadi?]

Banyak pertanyaan yang ada di kepalanya.Dua tahun berlalu dan Diane tetap berharap bahwa Jack akan kembali atau setidaknya mengiriminya surat. Dan lalu doanya terkabul.

Dia menerima surat dari Jack, mengatakan...! " Diane, aku punya kejutan untukmu...temui aku di bandara pukul 7 malam. Aku tidak kuat menunggu untuk menemuimu lagi. Cinta dan cium Jack"

Diane berbunga-bunga. Cinta dan cium, berarti banyak bagi seorang wanita yang belum merasakan cinta sebelumnya. Dia begitu gembira atas kata-kata itu.

Ketika harinya telah tiba, DIane menunggu dengan cemas. Dia memakai pakaian terbaiknya dan berusaha terlihat secantik mungkin. Dia mencari Jack kesana kemari. Tetapi tidak dilihatnya Jack. Kemudian datang seorang wanita dengan pakaian ketat berwarna biru yang seksi.

Dia begitu perhatian melihat Diane, "Hai! Aku Jacelyn, temannya Jack. Kamu Diane?" tanyanya. Diane menganggukkan kepala.

"Maaf, aku punya kabar buruk bagimu. Jack tidak akan datang. Dia tidak akan datang lagi," kata wanita itu, sambil meletakkan tangannya di pundaknya Diane.

Diane tidak dapat mempercayai hal yang dia dengar!!! Apa yang telah terjadi?? Diane bingung, dia amat sangat khawatir sekali dan wajahnya menjadi pucat.

"Dimana Jack? Apa yang terjadi padanya??? Katakan padaku..." Diane memohon kepada si wanita.

Si wanita melihat dengan cermat ke Diane dan dia menepuk pundak Diane dan mengatakan

"ALAMAK DIANE... INI IKE JACK...APAKAH IKE TERLIHAT CANTIK SEKARANG? AIH....AIH......YEY TIDAK DAPAT MENGENALI IKE LAGI YAH??? IHHH...SEBEL DEH.....!!!"

.......dan kemudian GUBRAK GEDEBUK ... Diane langsung pingsan .....

======== Bonus Dikit Yach ..

Ibu Mira sebagai penduduk baru di komplek rumahnya, datang ke rumah tetangga sebelahnya yang dihuni oleh satu orang nenek-nenek. 

Ibu Mira: Nek, kenalin nek, saya tetangga baru nenek, nama saya Mira.

Nenek : Oh, silakan duduk silakan duduk. Pas lagi ngobrol, di meja ada setoples kacang mete.

Ibu Mira: Wah nek, boleh yah saya cicipi kacang metenya.

Nenek : Oh yah yah boleh boleh boleh.

Saking enaknya kacang mete tersebut, sampai habis satu toples. 

Ibu Mira: Wah, maaf nek, kacang metenya rasanya agak lain asin2 manis tapi enak, sampai habis nih.

Nenek : Oh, nggak apa-apa koq, nenek juga nggak bisa makan, maklum gigi nenek udah nggak kuat, Nenek kan sering dikirimin sama cucu nenek coklat silver queen, nenek hanya mampu jilatin dan emut-emut coklatnya aja dan kacang metenya nenek kumpulkan dalam toples itu.

Flag Counter

free counters

Tukeran Link Otomatis

Label Tag Cloud


Widget by.Zoel Fahmy